|
|
 |
 |
|
| News /
Tanaman Hias |
|
| Adenium atau Kamboja Jepang Sekarang Mummi atau Jenglot | | By admin |
| Rabu, 02 Desember 2009 13:58:27 |
269 clicks |
 |
 |
|
|
| Dahulu Adenium atau lazim disapa dengan nama kamboja jepang, pernah mengalami masa jayanya. Satu pohon kecil setinggi 20 cm bisa berharga Rp 15.000,- akan tetapi sekarang tidak demikian halnya. Adenium bisa diperoleh dengan hanya Rp 3.000,- bahkan kurang, jika anda beli banyak. |
|
|
 |
| Click to view another photos... |
|
Dahulu Adenium atau lazim disapa dengan nama kamboja jepang pernah mengalami masa jayanya. Sebatang pohon kecil setinggi 20 cm bisa berharga Rp 15.000,- Akan tetapi sekarang tidak demikian halnya. Adenium bisa diperoleh dengan hanya Rp 3.000,- bahkan kurang, jika anda beli banyak.
Adenium yang sudah disambung dengan bunga-bunga jenis baru dari Thailand bisa lebih mahal lagi. Harganya bisa 60.000 hingga 100.000 perpohonnya. Proses penyambungannya juga tidak sulit, sehingga berlomba-lomba pedagang dan petani adenium memproduksinya secara besar-besaran.
Hal itu menyebabkan turunnya harga dengan drastis, tapi sekaligus juga menimbulkan gairah borong habis bagi yang berkantong tebal.
Adenium sukar berbuah. Tidak setiap bunga menjadi buah. Konon kabarnya harus dibantu manusia atau hewan. Adenium mudah sekali berkembang biak sebab bijinya bisa berjumlah 60 butir hingga 100 butir perbuahnya. Hal ini menyebabkan permintaan akan adenium selalu tercukupi. Apalagi dibantu dengan biji adenium import dari Thailand dan Taiwan, juga India.
Sangat mengerikan jumlah adenium yang ditanam petani di Jakarta. Daerahnya Meruya, Gondrong, dll. Tengkulak biji adenium seperti Gusniar Bebengaul merajalela disana, menyebar biji import kepada para petani dan membelinya kembali setelah menjadi pohon. Senyum dan ketawa menghiasi wajah mereka selama berbulan-bulan dan berbilang tahun.
Kini hal itu tinggal kenangan. Adenium sudah berkembang biak cukup dahsyat di Indonesia dan tidak perlu import segala. Bahkan sejak digilas masa sepi pasca kejayaan anthurium berakhir, adenium kian terpuruk pula nasibnya.
Di Banyumas ada Nursery yang sudah berbulan-bulan menggantung adenium. Saya kira sudah lebih dari setahun umurnya penggantungan itu. Tubuhnya sudah kisut dan keriput seperti mummi atau Jenglot. Apakah ini hukuman ? Atau rasa jengkel yang dalam ? Saya tidak tahu.
Yang jelas pemiliknya telah mengorbankan cukup banyak uang untuk membeli adenium jenis terbaru dari Jakarta, dari Godongijo Nursery, dan belum laku banyak tetapi harganya sudah turun. Sedih memang rasa yang timbul dimana-mana sejak 2 tahun ini, sejak Anthurium mengundurkan diri dari percaturan bisnis tanaman hias.
Dalam kesedihan itu pemilik nursery di Banyumas menjadi gembira ketika temannya dari Jakarta bercerita, betapa dia telah menyiksa adeniumnya. Caranya : dicabuti dan ditumpuk begitu saja. Tujuannya ? Agar bekas tempat adenium bisa dipake untuk jualan tanaman lain.
Mendengar berita itu kontan Sang Pemilik Nursery ikut-ikutan mencabuti semua adeniumnya dan digantunginya dipagar kebunnya. Siang malam tanaman itu disana dihembus angin dan hujan, panas siang hari dan dingin malam hari. Entah sampai kapan hukuman gantung itu berakhir.
Mereka masih tergantung disana setiap hari disaksikan oleh para karyawan yang berbisik lirih : "KDRT ... KDRT"
(Ahita Teguh Susilo)
|
|
|
|
 |
 |
|
| Buy and sell Text Links |
|
| |
|
|
 |
| |